12/21/16

2016: Six years to catch up.

Well hello, hello. Haven't seen you in a while. 6 years to be exact.

I decided to resurrect my blog back from the dead because:
^I want to start writing again
^I'm too lazy to make a new one
^I want my readers to see how I was when I was younger, naive, free, and filterless and very much driven by emotions

Now I'm still pretty much the same, with less creative juice since most of my time and energy is spent taking care of baby no 1 (beloved son), baby no 2 (beloved husband), and of course, myself.

I wanna continue documenting my life, my thoughts and my voice through this blog. Maybe to read in the future, or just as an outlet to express what I feel and think.

So many stories coming up, and I would like to humbly invite you to come and read, comment, or even share similar experiences.

Ciao

8/5/10

Menye menye menye

Gue sebel kalo lagi menye-menye. Di kepala kebayang mulu mukanya. Sebelum tidur berdoa buat orangtua dan orang itu mulu. Bangun-bangun kesel sendiri karena kebayang muka orang itu duluan sebelum ngeliat jam. Sampe akhirnya curhat di blog karena bingung mo cerita ke siapa!

Diceritain ke temen-temen, pasti bakal di-cengin. Diceritain ke kakak, bingung jelasinnya gimana. Yang ada dipendem-pendem, gak ada progress.

Yang pasti gue ngaca tiap hari dan nyadar, mana mungkin orang itu ngelirik gue sesaat pun! Tidak mungkin! Tidaaaakk! *lebay*

Udah pendek, mbulet, sipit, kadang lemot, kelakuan kayak kucing garong, suka ngatur, galak, et dah, apaaa apaaa yang mo dilirik dari gue? Apaaaaa? *mellow*

Kebiasaan gue kalo suka sama orang, diem-diem, tapi muka kayak billboard. Kalo diajak ngomong, mata pasti berbinar-binar ala anime pake background kembang-kembang dan cahaya-cahaya.

Yang suka ngebetein itu orang-orang yang gue suka pasti gak masuk profile "cowok idaman" bahkan seringnya melenceng. Dan yang keliatan sama gue itu justru kekurangan-kekurangan, yang pada akhirnya gue syukurin, karena ngerasa orang itu masih manusia. Kejam ya gue? Suka sama orang karena kekurangannya.

Yang paling ngeselin itu bingung nyari solusi gimana cara nyalurin ke-menye-menye-an yang pada akhirnya numpuk dan nyari jalan keluar.

Daripada menjadi public outburst yang memalukan dan pasti bakal disesalkan seumur hidup, gue sering lari ke musik dan tulisan.

Bahkan dengerin lagu yang mellow dikit, pasti langsung ngayal-ngayal merenung ala dangdut yang..... aarrghhh! Kalo dibayangin dan ditunjukkin pasti bakal jadi bahan ceng-an seumur hidup.

Norak.

Super-duper norak.

Akhirnya gue bikin puisi.


Ultimate norak.

Anyways, here goes nothing. Anggep aja ini karya, yoi gak? Dan moga-moga bisa membuat gue sedikit ikhlas dengan keadaan, kalo sekali lagi tangan terulur ini gak akan dibales.

Here goes nothing, deh.


Penyusup Relung Hati

Kamu terlahir dari sepucuk bayangan

Yang tertanam di sudut sanubari terdalam

Pelan-pelan tanpa kusadari

Kau memasuki dan menghantui


Setiap tikungan jalan yang kulalui

Ada sisi yang mengaktifkan memori

Masa-masa indah yang telat kusadari

Yang selalu kamu hadiri


Kamu tumbuh dan mengisi ruangan

Hingga rongga dadaku kesesakan

Semakin sulit semakin penuh

Semakin

Semakin.


Tapi aku hanya bisa memendam

Selama tatapan mataku akan selalu menjauh

Selama kepalaku akan merunduk malu

Karena kamu adalah cinta rahasiaku.


Cyberjaya, 6 Agustus 2010


Norak pol.


Udah ah, sekali-kali boleh galau, iya gak?



ciao.


PS:



Instagram